Uncategorized

REVIEW JURNAL 3 FAKTOR DOMINAN PENYEBAB KEGAGALAN TOILET TRAINING PADA ANAK USIA 4-6 TAHUN

Abstrak:

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar mampu mengontrol  buang air kecil dan buang air besar. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan  kegagalan toilet training pada anak usia 4-6 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mencari  tahu faktor-faktor utama yang menyebabkan kegagalan toilet training pada anak usia 4-6 tahun. Desain penelitian yang digunakan deskriptif eksploratif, dengan populasi seluruh orang tua/pengasuh anak yang memiliki anak usia 4-6 tahun yang tinggal di RW 05 Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang sebanyak 55 responden, data dikumpulkan menggunakan metode wawancara. Hasil penelitian menunjukkan faktor  terbesar yang menyebabkan kegagalan toilet training adalah cara mengajarkan toilet training 94,5%, kesiapan emosional 91%, dan pola asuh orang tua 61,8%. Hal ini terjadi karena cara mengajarkan toilet training yang kurang tepat, yang mengakibatkan anak  kurang memahami pentingnya air kecil dan buang air besar di toilet, bagaimana cara  melakan yang benar dan tidak mengajarkan secara terus menerus, jadi anak gagal dalam melakukan toilet training. Saran dari penelitian ini agar pemberi pelayanan kesehatan di Pujiharjo memberikan konseling kepada orang tua tentang toilet training.

Toilet training merupakan salah satu tugas perkembangan anak pada usia toddler.  Anak usia toddler harus mampu mengenali  rasa untuk mengeluarkan dan menahan  eliminasi serta mampu mengkomunikasikan  sensasi BAK dan BAB kepada orangtua (Alexandra, 2008; Klijn, 2006). Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil atau buang  air besar. Toilet training secara umum dapat  dilaksanakan pada setiap anak yang sudah  mulai memasuki fase kemandirian pada anak (Keen, 2007; Wald, 2009). Menurut Hidayat(2005) Toilet training dapat berlangsung pada  fase umur 18 bulan – 3 tahun. Toilet training membutuhkan persiapan fisik, psikologis  maupun intelektual seorang anak, sehingga  anak dapat mengontrol buang air besar dan  buang air kecil secara mandiri. Dampak paling umum pada kegagalan  toilet training adalah apabila orang tua  memberi perlakuan atau aturan yang lebih  ketat kepada anaknya, maka hasil tersebut  dapat mengganggu kepribadian anak sehingga  anak akan atau cenderung bersifat retentive yaitu anak cenderung bersikap keras kepala  bahkan kikir. Hal ini dapat terjadi karena  orang tua akan sering memarahi anak saat BAB/BAK atau melarang anak BAB/BAK saat berpergian. Sebaliknya, apabila orang tua santai dalam menerapkan toilet training, anak akan dapat mengalami kepribadian ekspresif  yaitu anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka membuat gara-gara, emosional dan suka  seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari- hari (Hidayat, 2005). Blum dkk (2003), menyatakan bahwa  toilet training yang diajarkan pada sekelompok anak usia kurang dari 24bulan, 68% dapat menyelesaikan sebelum usia 3 tahun. Pada kelompok lain yang berusia >24  bulan, hanya 54% yang mampu  menyelesaikannya sebelum 3 tahun. Sebuah  studi di Belgia juga menghasilkan pendapat  bahwa pelaksanaan toilet training yang lebih  dini akan mempercepat tercapainya  kemampuan kontrol kemih. Menurut Warner and Paula (2007)  bahwa 90% anak usia antara 24-30 bulan telah  berhasil belajar menggunakan toilet dengan  usia rata-rata antara 27-28 bulan, sedangkan  80% anak tidak mengompol dimalam hari  antara usia 30-42 bulan dengan rata-rata usia  33 bulan. Menurut penelitian American  Psychiatric Association, dilaporkan bahwa 10 -20% anak usia 5 tahun, 5% anak usia 10  tahun, hampir 2% anak usia 12-14 tahun, dan  1% anak usia 18 tahun masih mengompol, dan  jumlah anak laki-laki yang mengompol diketahui lebih banyak dibanding anak  perempuan (Medicastore, 2008 dalam  Ekanurul, 2012). Studi terbaru merekomendasikan para  orang tua untuk mulai mengenalkan toilet  training saat anak berusia 27-32 bulan. Anak  yang baru mulai belajar menggunakan toilet di  atas usia 3 tahun cenderung lebih sering  mengompol hingga usia sekolah(Kompas, 2010). Toilet training dilakukan pada anak ketika masuk fase kemandirian, pelatihan  BAB biasanya mulai umur dua sampai tiga  tahun, dan pelatihan BAK ketika anak pada  umur tiga sampai empat tahun. Usia satu sampai tiga tahun harus sudah dikenalkan ke  toilet, apa itu BAK dan BAB. Jika sudah  lewat dari usia tiga tahun, apalagi ketika akan memasuki masa sekolah, namun belum diberi  toilet training, itu akan berpengaruh terhadap  perkembangan sosial anak. Dari data yang  didapat diketahui bahwa anak usia 4-6 tahun  yang seharusnya dapat berhasil dalam  melakukan toilet training masih ada anak  yang mengalami kegagalan toilet training. Studi pendahuluan yang dilakukan di  RW 05 Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo  Kabupaten Malang dari 10 anak didapatkan 8  anak yang mengalami kegagalan toilet  training, diantaranya masih mengompol dan  buang air kecil di sembarang tempat. Berdasarkan uraian diatas perlu dicari  faktor dominan penyebab kegagalan dalam  toilet training pada anak usia 4-6 tahun di RW  05 Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo  Kabupaten Malang.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksploratif. Penelitian dilakukan di  RW 05 Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtoyudo  Kabupaten Malang dan Penelitian ini  dilakukan pada bulan Desember 2015 -bulan  Mei 2015. Populasi semua orangtua/wali yang  memiliki anak usia 4-6 tahun dan tinggal atau tercatat di RW 05 Desa Pujiharjo Kecamaan  Tirtoyudo Kabupaten Malang sejumlah 55  responden, pengambilan data dengan menggunakan metode wawancara

PEMBAHASAN

Karakteristik Responden Berdasarkan  kesiapan emosional anak yaitu sebesar 61% (34 anak) secara emosional  belum siap. Untuk suatu proses panjang dan tidak  mudah seperti toilet training ini, sering kali  dibutuhkan suatu bentuk reward atau  reinforcement yang bisa menunjukkan kalau ada  kemajuan yang dilakukan anak. Dengan sistem reward yang tepat anak juga bisa melihat sendiri  kalau dirinya bisa melakukan kemajuan dan bisa  mengerjakan apa yang sudah menjadi tuntutan  untuknya, sehingga hal ini akan menambah rasa  mandiri dan percaya dirinya. Orang tua bisa  memilih metode peluk cinta dan pujian di depan  anggota keluarga yang lain ketika dia berhasil  melakukan sesuatu atau mungkin orang tua  menggunakan system bintang yang ditempelkan di  bagian keberhasilan anak. Anak apabila berhasil  melakukan toilet training maka orang tua dapat  memberikan pujian dan jangan menyalahkan  apabila anak belum melakukan dengan baik  (Sugiarti. 2008 dalam Kartini, 2013). Peneliti berasumsi bahwa anak akan merasa  senang apabila mendapatkan reward atau hadiah  dari orang tuanya, selain anak merasa senang saat  mendapatkan reward atau hadiah, pemberian  reward atau hadiah juga memberikan motivasi dan  semangat yang tinggi kepada anak untuk  melakukan yang lebih baik lagi sehingga anak  tidak merasa terbebani dengan tugas yang harus ia  capai diusianya yang masih kecil. Dalam  mengaplikasikan toilet training kendala yang  sering ditemui adalah orang tua kurang  memberikan pujian dan reward atau hadiah kepada  anaknya sehingga anak kurang bersemangat dan  merasa terbebani dan anak kurang termotivasi  untuk lebih baik lagi dalam melakukan toilet  training. Akan tetapi jika terlalu sering  memberikan reward atau hadiah kepada anak, agar  anak tidak terbiasa untuk selalu meminta hadiah  jika orang tua menyuruh anaknya melakukan  sesuatu. Dan selalu tepatilah apabila orang tua  menjajikan sesuatu kepada anaknya karena apabila  orang tua tidak bisa menepati janjinya maka anak  akan merasa kecewa dan tidak mau lagi melakukan  perintah dari orang tua.  Karakteristik Responden Berdasarkan pola  asuh orang tua hampir seluruhnya 91% (50 Anak) pola asuh orang  tua tidak sesuai dengan kesiapan anak. Dampak  yang paling umum dalam kegagalan toilet training seperti adanya perlakuan atau aturan yang lebih  ketat bagi orang tua kepada anaknya yang dapat  mengganggu kepribadian anak atau cenderung   bersifat retentive dimana anak cenderung bersikap  keras kepala bahkan kikir. Hal ini dapat dilakukan  oleh orang tua apabila sering memarahi anak saat  buang air besar atau buang air kecil atau melarang  anak saat berpergian. Bila orang tua santai dalam  memberikan aturan dalam toilet training maka  anak akan dapat mengalami kepribadian ekspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka  membuat gara-gara, emosional dan suka seenaknya  dalam melakukan kegiatan sehari-hari (Hidayat, 2005). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan  penelitian yang dilakukan oleh Jayanti, D dan  Pratiti (2009) yang menyatakan bahwa adanya  hubungan yang lebih erat antara pola asuh orang  tua terhadap kemandirian toilet training. Hasil  penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ustari (2006) yang menyatakan bahwa keberhasilan toilet training pada anak usia  4-6 tahun dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Peneliti berasumsi bahwa kegagalan toilet  training pada anak dipengaruhi oleh pola asuh  orangtua/wali, orangtua/wali memberikan aturan  yang terlalu ketat misalnya orang tua menuntut  anaknya untuk bisa melakukannya apabila anak  tidak bisa melakukannya dengan baik orang tua  memaksakan anaknya agar bisa melakukan pada  saat itu juga dan orang tua sering memarahi  anaknya sehingga membuat anak bersikap keras  kepala dan suka seenaknya dalam melakukan  kegiatan sehari-hari sehingga akan menyebabkan  kegagalan toilet training. Selain itu pendidikan  orang tua atau wali juga berpengaruh terhadap  keberhasilan dan kegagalan toilet training toilet  training, karena semakin tinggi tingkat pendidikan  orang tua maka akan mempengaruhi berhasil atau  tidaknya anak dalam melakukan toilet training,  begitu juga sebaliknya apabila pendidikan orang  tua rendah maka anak bisa dikatakan terlambat  dalam melakukan toilet training. Peneliti berasumsi kasih sayang dan perhatian  yang dimiliki ibu atau wali mempengaruhi kualitas dalam penerapan toilet training dimana ibu yang  perhatian akan memantau perkembangan anak,  maka berpengaruh lebih cepat dalam melatih anak  melakukan toilet training. Dengan dukungan dan  perhatian ibu atau wali maka anak akan lebih  berani atau termotivasi untuk mencoba karena  mendapatkan perhatian dan bimbingan. Karakteristik Responden Berdasarkan cara  mengajarkan toilet training. Berdasarkan tabel 3.1 hampir setengahnya  yaitu sebesar 95% (52 anak) cara mengajarkan  toilet training salah. Toilet training pada anak  memerlukan beberapa tahapan seperti  membiasakan menggunakan toilet training pada  anak untuk buang air, dengan membiasakan anak masuk kedalam WC anak akan lebih cepat  beradaptasi. Anak juga perlu dilatih untuk duduk di toilet meskipun dengan pakaian lengkap dan  jelaskan kepada anak kegunaan toilet. Melakukan  secara rutin kepada anak ketika anak terlihat ingin  buang air. Anak dibiarkan duduk di toilet pada  waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20  menit setelah bangun tidur dan selesai makan, ini bertujuan agar anak dibiasakan dengan jadwal  buang airnya. Anak sesekali enuresis (mengompol) dalam masa toilet training itu merupakan hal yang  normal. Anak apabila berhasil melakukan toilet  training maka orang tua dapat memberikan pujian  dan jangan menyalahkan apabila anak belum melakukan dengan baik (Sugiarti. 2008 dalam Kartini, 2013).

Hasil penelitian ini juga sesuai  dengan penelitian yang dilakukan oleh Kresida (2009) yang menyatakan bahwa semakin baik praktik ibu semakin baik juga kemampuan anak dalam toilet training. Peneliti berasumsi bahwa cara atau metode pengajaran toilet training yang kurang tepat membuat anak kurang mengerti dan memahami pentingnya buang air kecil dan buang air besar di kamar mandi, anak juga kurang memahami bagaimana cara melakukan toilet training dan tidak mengikuti tahapan secara konsisten, sehingga anak gagal dalam melakukan toilet training, keterampilan dan kemampuan ibu dalam mengaplikasikan toilet training sangat diperlukan agar anak tidak gagal lagi dalam melakukan toilet training.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan pada hasil analisis terhadap faktor-faktor penyebab kegagalan toilet training pada anak usia 4-6 tahun di RW 05 Desa Pujiharjo Kecamatan Tirtiyudo Kabupaten Malang, terdapat 3 faktor yang paling dominan yaitu cara mengajarkan toilet training, kesiapan emosional dan pola asuh orang tua.

Saran

Agar pemberi pelayanan kesehatan di Pujiharjo memberikan konseling kepada orang tua tentang toilet training sehingga orang tua dapat mengajarkan toilet training dengan benar.

HALAMAN

URL  https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=jurnal+ict+kebidanan&btnG=#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3DhWxOup_HqskJ

DAFTAR RUJUKAN

Alexandra, Vermandel. 2008. Toilet training of Healthy Young Toddlers: Randomized Trial Between a Daytime Wetting Alarm and Timed Potty Training. Journal of Develop- Mental & Behavioral Pediatrics, 29(3): 191-196.

Blum, N. J.,dkk. 2003. Relationship Between Age at Initiation of Toilet training and duration  of Training. A prospective study of Pedtries.

Ekanuru.l (2012). Hubungan Pengetahuan, Sikap Dengan Praktek Ibu Dalam Toilet training Pada Balita Diperumahan Kini Jaya Kelurahan Kedungmundu Kecamatan Tembalang Semaran. Diunduh tanggal 03 oktober 2012 jam 12:48:30 pm

Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika

Jayanti, D & Pratiti, B. 2009. Perbedaan Pola Asuh Ibu terhadap Kemandirian Toilet training di desa (PAUD Aisyiyah Cabang Kasihan Bantul) dengan Kemandirian Toilet training di Kota (Playgroup Nur Aini) Yogyakarta.

 

Catatan:Review ini dibuat sebagai materi tugas”teknolgi dan informasi” pada jurusan kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi(hyperlink ke website www.stikesmi.ac.id yang diampu oleh Geri Sugiran AS, STP hyperlink www.geri.my.id

You may also like...